Saturday, 2 May 2020

NASKAH LAKON DAN PROBLEMATIKA EPISTEMOLOGI*

Oleh: Mursalin

Disini saya akan mencoba share terkait problematika penulisan naskah lakon dari sudut pandang filsafat atau lebih jelasnya berkaitan dengan epistemologi yang mempertanyakan “dari mana sumber” segala sesuatu.

Mitos dan Filsafat
Saya akan membuka tulisan ini dengan sebuah pertanyaan; Mengapa mitos bisa muncul?. Untuk menjawab pertanyaan ini, ada baiknya kita mengetahui terlebih dulu pengertian mitos dan bagaimana mitos bisa hidup dalam kurun waktu sejarah umat manusia. Mitos adalah cerita suci (sakral) yang pelaku utamanya mempunyai kekuatan adikodrati dan mempunyai sifat ke-dewa-an yang kebenarannya tidak boleh dibantah, serta ceritanya merupakan asal-usul seusatu. Lalu, siapakah yang membuat mitos ini? tentu saja manusia yang pada hakikatnya adalah makhluk berpikir, tujuan dikarangnya cerita tersebut adalah sebuah penjelasan (eksplanasi) tentang terjadinya sesuatu untuk memenuhi hasrat ingin tahunya yang kebenarannya (cerita tersebut tentu saja bagi sebahagian orang) tidak dapat diterima secara rasional maupun material. Contohnya tentang mitos pelangi, seseorang bisa saja mengarang cerita yang mengatakan bahwa ada tujuh bidadari dari kayangan hendak turun mandi disebuah telaga. Nama-nama bidadari tersebut tentunya disesuaikan dengan warna pelangi; Dewi Merah, Dewi Jingga, Dewi Kuning dsb.
Jadi, kata kunci dari jawaban atas pertanyaan yang saya ajukan adalah 1)  Adanya manusia yang berpikir, 2) fenomena yang menurutnya  aneh, ganjil atau menarik, 3) kedua poin tersebut memunculkan pertanyaan, mengapa sesuatu itu ada? 4) akhirnya pertanyaan tersebut memunculkan jawaban yang berdasarkan cerita karangan dan kebenarannya tidak bisa dipertanggung jawabkan.
Bagi sebagian orang, jawaban yang ditawarkan oleh mitos sudah cukup untuk memenuhi hasrat keingin tahuannya. Akan tetapi, bagi sebagian orang yang lain jawaban mitos sangatlah mengawang-awang, tidak jelas, dan sangat tidak masuk akal. Lalu, muncul usaha untuk mengkritisi mitos dengan 1) mempertanyakan kebenarannya, 2) melakukan secara tuntas pengamatan dan perenungan pada objek yang di-mitos-kan  3) menyusun kesimpulan. Lagi-lagi saya memakai contoh tentang pelangi, ternyata setelah diamati dan direnungkan, pelangi yang selama ini di-mitos-kan sebagai bidadari yang hendak turun mandi ke telaga tidak terbukti. Pelangi ternyata muncul akibat pembiasan cahaya matahari yang dibantu tetes air hujan lalu membentuk spektrum warna-warni seperti yang terlihat. Penjelasan ini kita namakan dengan filsafat.
Secara sederhana filsafat adalah 1) obat dari rasa keingintahuan seseorang atas kegelisahannya 2) dari jawaban mitos yang mengawang-awang dan serba tidak pasti 3) yang jawabannya diperoleh dari pengamatan (panca indera) dan perenungan (kontemplasi). Jika ditinjau dari sudut pandang kebahasaan filsafat berasal dari dua kata, yaitu philos dan sophos. Philos berarti cinta, sedangkan sophos adalah kebijaksanaan. Barangkali dari sekian banyak definisi cinta saya menyimpulkan bahwasanya cinta adalah ketertarikan, sedangkan kebijaksanaan adalah sesuatu yang tidak berat sebelah, artinya filsafat adalah mencintai segala sesuatu yang tidak berat sebelah.
Sudah barang tentu yang namanya cinta itu harus mencari tahu sebanyak-banyaknya dan sedalam-dalamnya tentang objek yang dicintai, sebagaimana ungkapan “tak kenal maka tak sayang, tak sayang maka tak cinta”, kalau tak mencari tahu, itu bukan cinta namanya. Mana mungkin seorang lelaki jatuh cinta dengan seorang perempuan tanpa mengetahui bagaimana rupanya, fisiknya dan identitasnya. Sedangkan kebijaksanaan adalah kebenaran yang sifatnya tidak berat sebelah. Artinya aktifitas filsafat adalah mencari tahu sebanyak-banyaknya dan sedalam-dalamnya perihal kebijaksanaan dengan kata lain kita sedang mencari sebuah hakikat atau esensi, dengannya kita memandang dunia lebih jernih, proposional dan seimbang.

Filsafat dan Naskah Lakon
Naskah lakon merupakan satu diantara unsur utama yang menunjang sebuah pementasan teater. Melalui naskah, terjadi pertemuan antara sastra dengan seni. Melalui naskah pula, gagasan yang dikemukakan oleh penulisnya dapat direkonstruksi sesuai style sutradara. Hemat saya, naskah lakon merupakan garis tegas antara teater modern dengan teater tradisional yang ceritanya diatur berdasarkan oral pakem.
Melalui naskah lakon, alam pikir penulis dapat diraba karena  idealnya naskah ditulis berdasarkan kegelisahan si penulis atas apa yang terjadi pada masyarakat sekitarnya sebagaimana adanya (das sein) atau setidaknya penulis bisa mengungkapkan bagaimana kondisi seharusnya (das sollen), tentunya hal ini harus dibalut plot dan unsur dramatik. Artinya dalam penulisan naskah lakon, si penulis membangun dunia idealnya sendiri pada naskah, sehingga muncul filsafat didalamnya.
Lalu apa hubungannya filsafat dengan naskah lakon, lebih jauh lagi dengan pementasan teater?. Keterkaitan keduanya bersifat dwitunggal abstrak-kongkrit, maksudnya adalah dua jenis dalam satu kesatuan yang saling melengkapi, sebagaimana pikiran dengan tubuh pada manusia. Seluruh gerak tubuh yang kongkrit ditentukan oleh pikiran yang abstrak. Pada konteks pembahasan ini hal abstrak yang menjadi roh adalah filsafat, kemudian ia menggerakkan hal kongkrit yaitu naskah lakon.
Sebuah naskah lakon yang asal dibuat saja tanpa ada filsafat yang jelas, sama halnya dengan tubuh tanpa pikiran yang bergerak lepas kontrol. Sebaliknya naskah lakon yang dilandasi oleh filsafat tentunya lebih terasa powerfull dan jelas kemana arah gagasannya. Hemat saya ada satu permasalahan yang dihadapi peserta terkait dengan lomba penulisan naskah ini, khususnya yang bisa diselesaikan dengan filsafat, masalah tersebut yaitu kurangnya kepekaan terhadap problematika masyarakat pada lahan basah. Artinya peserta secara keseluruhan (kalau boleh saya katakan) kurang melihat permasalahan lahan basan basah secara utuh, hanya beberapa sisi saja yang dilihat. Adapun isu dominan yang dikemukakan para peserta hanya berkutat pada penggusuran lahan basah. Pertanyaan saya, apakah isu penggusuran ini relevan dengan kegelisahan masyarakat sekarang? Kalaupun isu ini relevan sejauh mana dan sedalam apa penulis memahami pemasalahan penggusuran lahan basah?. Sebagai pembaca, saya seakan-akan tidak merasakan kegelisahan penulis dalam naskah-naskah tersebut. Artinya isu yang dikemukakan penulis kurang dikaji secara mendalam. Hemat saya perlu adanya sebuah metode observasi (bahkan riset) untuk mempelajari, mengkaji dan mengemukakan isu yang ada pada naskah lakon.

Kesimpulan
Fungsi filsafat disini layaknya seperti pisau bedah yang coba memebelah tubuh ikan, dengannya kita mengerti seluruh bagian organ yang terdapat pada ikan. Atau mungkin seperti obeng yang mampu membedah CPU komputer, dengannya kita mengerti fungsi kabel biru, kabel merah, power supply, RAM, mother board dll. Jika kita mengerti masing-masing fungsi seluruh komponen, maka ketika kita dihadapkan pada komputer yang tidak bisa menyala otomatis kita langsung bisa menganalisis dan menuju keakar permasalahannya.
Seandainya kita mengerti esensi atau hakikat, seakan-akan kita bisa memahami semuanya dan bisa bertindak bijak dalam menentukan sebuah keputusan. Bijak pada konteks ini adalah memandang segala sesuatu menurut proporsinya. Seperti tepung yang menjadi hakikat semua wadai, maka jika kita memiliki tepung itu sendiri, semua wadai akan bisa kita buat, tinggal cari bahan pelengkap dan tekniknya saja.
Akhir kata saya mengucapkan selamat kepada para pemenang, teruslah berkarya, berinovasi dan menginpsirasi. Semoga naskah lakon yang anda tulis membawa kebaikan bagi perkembangan teater di banua. 



* Mursalin Arlong - Anggota Luar Biasa Teater Himasindo FKIP ULM Banjarmasin

0 comments:

Post a Comment

Copyright © Gramindsight | Designed With By Blogger Templates
Scroll To Top