Disini saya akan
mencoba share terkait problematika
penulisan naskah lakon dari sudut pandang filsafat atau lebih jelasnya
berkaitan dengan epistemologi yang mempertanyakan “dari mana sumber” segala
sesuatu.
Mitos
dan Filsafat
Saya
akan membuka tulisan ini dengan sebuah pertanyaan; Mengapa mitos bisa muncul?. Untuk
menjawab pertanyaan ini, ada baiknya kita mengetahui terlebih dulu pengertian
mitos dan bagaimana mitos bisa hidup dalam kurun waktu sejarah umat manusia.
Mitos adalah cerita suci (sakral) yang pelaku utamanya mempunyai kekuatan
adikodrati dan mempunyai sifat ke-dewa-an yang kebenarannya tidak boleh
dibantah, serta ceritanya merupakan asal-usul seusatu. Lalu, siapakah yang
membuat mitos ini? tentu saja manusia yang pada hakikatnya adalah makhluk
berpikir, tujuan dikarangnya cerita tersebut adalah sebuah penjelasan
(eksplanasi) tentang terjadinya sesuatu untuk memenuhi hasrat ingin tahunya
yang kebenarannya (cerita tersebut tentu saja bagi sebahagian orang) tidak
dapat diterima secara rasional maupun material. Contohnya tentang mitos
pelangi, seseorang bisa saja mengarang cerita yang mengatakan bahwa ada tujuh
bidadari dari kayangan hendak turun mandi disebuah telaga. Nama-nama bidadari
tersebut tentunya disesuaikan dengan warna pelangi; Dewi Merah, Dewi Jingga,
Dewi Kuning dsb.
Jadi,
kata kunci dari jawaban atas pertanyaan yang saya ajukan adalah 1) Adanya manusia yang berpikir, 2) fenomena
yang menurutnya aneh, ganjil atau
menarik, 3) kedua poin tersebut memunculkan pertanyaan, mengapa sesuatu itu
ada? 4) akhirnya pertanyaan tersebut memunculkan jawaban yang berdasarkan
cerita karangan dan kebenarannya tidak bisa dipertanggung jawabkan.
Bagi
sebagian orang, jawaban yang ditawarkan oleh mitos sudah cukup untuk memenuhi
hasrat keingin tahuannya. Akan tetapi, bagi sebagian orang yang lain jawaban
mitos sangatlah mengawang-awang, tidak jelas, dan sangat tidak masuk akal.
Lalu, muncul usaha untuk mengkritisi mitos dengan 1) mempertanyakan
kebenarannya, 2) melakukan secara tuntas pengamatan dan perenungan pada objek
yang di-mitos-kan 3) menyusun kesimpulan.
Lagi-lagi saya memakai contoh tentang pelangi, ternyata setelah diamati dan
direnungkan, pelangi yang selama ini di-mitos-kan sebagai bidadari yang hendak
turun mandi ke telaga tidak terbukti. Pelangi ternyata muncul akibat pembiasan
cahaya matahari yang dibantu tetes air hujan lalu membentuk spektrum
warna-warni seperti yang terlihat. Penjelasan ini kita namakan dengan filsafat.
Secara
sederhana filsafat adalah 1) obat dari rasa keingintahuan seseorang atas
kegelisahannya 2) dari jawaban mitos yang mengawang-awang dan serba tidak pasti
3) yang jawabannya diperoleh dari pengamatan (panca indera) dan perenungan
(kontemplasi). Jika ditinjau dari sudut pandang kebahasaan filsafat berasal
dari dua kata, yaitu philos dan sophos. Philos berarti cinta, sedangkan sophos
adalah kebijaksanaan. Barangkali dari sekian banyak definisi cinta saya
menyimpulkan bahwasanya cinta adalah ketertarikan, sedangkan kebijaksanaan
adalah sesuatu yang tidak berat sebelah, artinya filsafat adalah mencintai
segala sesuatu yang tidak berat sebelah.
Sudah
barang tentu yang namanya cinta itu harus mencari tahu sebanyak-banyaknya dan
sedalam-dalamnya tentang objek yang dicintai, sebagaimana ungkapan “tak kenal
maka tak sayang, tak sayang maka tak cinta”, kalau tak mencari tahu, itu bukan
cinta namanya. Mana mungkin seorang lelaki jatuh cinta dengan seorang perempuan
tanpa mengetahui bagaimana rupanya, fisiknya dan identitasnya. Sedangkan
kebijaksanaan adalah kebenaran yang sifatnya tidak berat sebelah. Artinya
aktifitas filsafat adalah mencari tahu sebanyak-banyaknya dan sedalam-dalamnya
perihal kebijaksanaan dengan kata lain kita sedang mencari sebuah hakikat atau
esensi, dengannya kita memandang dunia lebih jernih, proposional dan seimbang.
Filsafat
dan Naskah Lakon
Naskah
lakon merupakan satu diantara unsur utama yang menunjang sebuah pementasan
teater. Melalui naskah, terjadi pertemuan antara sastra dengan seni. Melalui
naskah pula, gagasan yang dikemukakan oleh penulisnya dapat direkonstruksi
sesuai style sutradara. Hemat saya, naskah lakon merupakan garis tegas antara
teater modern dengan teater tradisional yang ceritanya diatur berdasarkan oral
pakem.
Melalui
naskah lakon, alam pikir penulis dapat diraba karena idealnya naskah ditulis berdasarkan
kegelisahan si penulis atas apa yang terjadi pada masyarakat sekitarnya
sebagaimana adanya (das sein) atau
setidaknya penulis bisa mengungkapkan bagaimana kondisi seharusnya (das sollen), tentunya hal ini harus
dibalut plot dan unsur dramatik. Artinya dalam penulisan naskah lakon, si
penulis membangun dunia idealnya sendiri pada naskah, sehingga muncul filsafat
didalamnya.
Lalu
apa hubungannya filsafat dengan naskah lakon, lebih jauh lagi dengan pementasan
teater?. Keterkaitan keduanya bersifat dwitunggal abstrak-kongkrit, maksudnya
adalah dua jenis dalam satu kesatuan yang saling melengkapi, sebagaimana
pikiran dengan tubuh pada manusia. Seluruh gerak tubuh yang kongkrit ditentukan
oleh pikiran yang abstrak. Pada konteks pembahasan ini hal abstrak yang menjadi
roh adalah filsafat, kemudian ia menggerakkan hal kongkrit yaitu naskah lakon.
Sebuah
naskah lakon yang asal dibuat saja tanpa ada filsafat yang jelas, sama halnya
dengan tubuh tanpa pikiran yang bergerak lepas kontrol. Sebaliknya naskah lakon
yang dilandasi oleh filsafat tentunya lebih terasa powerfull dan jelas kemana arah gagasannya. Hemat saya ada satu
permasalahan yang dihadapi peserta terkait dengan lomba penulisan naskah ini,
khususnya yang bisa diselesaikan dengan filsafat, masalah tersebut yaitu
kurangnya kepekaan terhadap problematika masyarakat pada lahan basah. Artinya
peserta secara keseluruhan (kalau boleh saya katakan) kurang melihat
permasalahan lahan basan basah secara utuh, hanya beberapa sisi saja yang
dilihat. Adapun isu dominan yang dikemukakan para peserta hanya berkutat pada
penggusuran lahan basah. Pertanyaan saya, apakah isu penggusuran ini relevan
dengan kegelisahan masyarakat sekarang? Kalaupun isu ini relevan sejauh mana
dan sedalam apa penulis memahami pemasalahan penggusuran lahan basah?. Sebagai
pembaca, saya seakan-akan tidak merasakan kegelisahan penulis dalam
naskah-naskah tersebut. Artinya isu yang dikemukakan penulis kurang dikaji
secara mendalam. Hemat saya perlu adanya sebuah metode observasi (bahkan riset)
untuk mempelajari, mengkaji dan mengemukakan isu yang ada pada naskah lakon.
Kesimpulan
Fungsi
filsafat disini layaknya seperti pisau bedah yang coba memebelah tubuh ikan,
dengannya kita mengerti seluruh bagian organ yang terdapat pada ikan. Atau
mungkin seperti obeng yang mampu membedah CPU komputer, dengannya kita mengerti
fungsi kabel biru, kabel merah, power
supply, RAM, mother board dll.
Jika kita mengerti masing-masing fungsi seluruh komponen, maka ketika kita
dihadapkan pada komputer yang tidak bisa menyala otomatis kita langsung bisa
menganalisis dan menuju keakar permasalahannya.
Seandainya
kita mengerti esensi atau hakikat, seakan-akan kita bisa memahami semuanya dan
bisa bertindak bijak dalam menentukan sebuah keputusan. Bijak pada konteks ini
adalah memandang segala sesuatu menurut proporsinya. Seperti tepung yang
menjadi hakikat semua wadai, maka
jika kita memiliki tepung itu sendiri, semua wadai akan bisa kita buat, tinggal cari bahan pelengkap dan
tekniknya saja.
Akhir
kata saya mengucapkan selamat kepada para pemenang, teruslah berkarya,
berinovasi dan menginpsirasi. Semoga naskah lakon yang anda tulis membawa
kebaikan bagi perkembangan teater di banua.

0 comments:
Post a Comment